3 Pilar Pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara
TIM VideaClass ● Jumat, 13 Maret 2026 07:17
Raden Mas Soewardi Soerjaningrat (EYD: Suwardi Suryaningrat; 2 Mei 1889 - 26 April 1959), lebih dikenal sebagai Ki Hadjar Dewantara, adalah aktivis Revolusi Nasional Indonesia, guru, kolumnis, dan politisi, yang diakui sebagai pelopor Pendidikan di Indonesia selama pendudukan Belanda di Indonesia. Ia adalah pendiri Perguruan Taman Siswa, yaitu lembaga pendidikan pertama di Indonesia yang memberikan kesempatan bagi para pribumi untuk bisa memperoleh hak pendidikan seperti halnya para priyayi maupun orang-orang Belanda.
Pilar pendidikan adalah konsep dasar atau landasan utama yang menjadi penyangga dalam penyelenggaraan sistem pendidikan agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara efektif.

FILOSOFI KEPEMIMPINAN DALAM TRILOGI KI HADJAR DEWANTARA
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang kaya dalam karya, karsa, dan sumber daya yang tidak kalah dari bangsa lain. Bahkan karya dan karsa bangsa kita banyak diakui oleh bangsa lain di dunia. Ketika berbicara karsa/ ide, tentang kepemimpinan, ternyata Indonesia juga memiliki filosofi kepemimpinan yang memiliki makna yang cukup mendalam, dan sesuai dengan nilai-nilai budaya dan yang di anut oleh bangsa Indonesia. Filosofi tersebut dijabarkan dalam tiga kalimat berbahasa Jawa : ”Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani”.
Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia, yang menciptakan filosofi ini saat mendirikan Taman Siswa sebagai tempat belajar bagi pribumi pada masa penjajahan Belanda. Pada mulanya filosofi ini ditujukan kepada para pendidik agar bisa menginspirasi, memberikan suri teladan dan dapat membangkitkan motivasi siswanya. Namun filosofi ini tepat pula untuk seorang pemimpin, karena sejatinya seorang pemimpin bersesuaian dengan figur seorang guru yang mendidik murid-muridnya. Kartono (1998) dan Suradinata (1997) memberikan gambaran tentang tiga prinsip dasar (trilogi) kepemimpinan menurut Ki Hajar Dewantara adalah:
Ing ngarsa sung tuladha.
Ing ngarsa sung tuladha artinya, di depan memberi teladan. Seorang pemimpin adalah lokomotif yang berada pada bagian paling depan, yang akan mengarahkan pada relyang seharusnya dilalui. Pemimpin merupakan orang yang akan dilihat oleh seluruh orang yang dipimpinnya, sehingga ia harus menjadi contoh, pembimbing bagi yang dipimpinnya.
Sebagai pemimpin, kadang-kadang kita perlu berdiri di depan dan memimpin pasukan. Ini penting, terutama jika pasukan kita terdiri dari orang-orang yang kurang berpengalaman. Cara paling mudah memimpin pasukan adalah dengan menjadi teladan baik dalam ucapan, tutur kata, maupun perbuatan sehingga bisa merangsang para bawahan untuk bersikap seperti pemimpinnya.
Sebagai contoh sederhana adalah ketika ada kebijakan tentang disiplin pegawai dimana semua pegawai harus datang ke tempat kerja tepat waktu, pemimpin selalu menekankan pentingnya disiplin dan ketepatan waktu, namun apabila pemimpin sendiri tidak dapat memberikan contoh dalam kehadirannya dan tidak dapat memberikan alasan mengapa ia tidak dapat hadir tepat waktu, maka hanya masalah waktu ketika pegawai mulai meniru dan mencari kesempatan kelonggaran dalam disiplin waktu. Menekankan peran seorang pemimpin sebagai tokoh yang harus bisa diteladani, yang harus bisa membimbing dan memberi contoh kepada yang dipimpinya, jika dikaitkan dengan hasthabrata maka konsep ini sama dengan sifat matahari.Pemimpin yang baik adalah yang mampu berjalan pada jajaran terdepan dan menjadi tameng di arena perjuangan dalam menghadapi rintangan dan bahaya serta memikirkan segala usaha untuk mencapai tujuan.
Dengan tekad yang kuat, seorang pemimpin harus mampu melaksanakan kerja yang paling banyak dan berat serta menegakkan disiplin dengan menjadikannya sebagai teladan yang patut untuk dicontoh. Menurut Kartono (1998:288) sebagai pemimpin yang harus berada paling depan, ia harus memiliki sifat teguh, tanggon dan tanggung.
Tangguh artinya memupuk kekuatan badan dan kesentosaan batin dengan jalan bekerja keras, berani menghadapi bahaya, menjadi pengayom, peneduh bagi yang dipimpinnya. Tanggon artinya kokoh hati, kekar, perkasa badannya, besarkemauannya dalam menanggulangi setiap bahaya dan kesulitan, dan iatidak silau dengan kekayaan duniawi. Tanggung artinya berani bertanggung jawab walaupun mengalami banyak kesulitan. Dia selalu menjadi perintis dan pembimbing, penuntun bagi yang dipimpinnya.
Ing madya mangun karsa
Ing madya mangun karsa artinya di tengah membangun kehendak atau niat. Karsa artinya kemauan, kehendak atau niat. Bisa juga karsa diarikan sebagi ide. Terkadang, sebagai pemimpin, kita perlu ditengah-tengah pasukan untuk membangkitkan semangat berjuang. Dalam menghadapi kesulitan pemimpin tidakperlu mengambil alihnya tetapi biarkan mereka menghadapi dan menyelesaikannya sendiri. Yang perlu dilakukan pemimpin adalah membangun, membangkitkan semangatnya agar mereka tidak jatuh terpuruk, sehingga mereka akan menjadi kuat. Seorang pemimpin dalam hal ini bertindak sebagai motivator yang menggugah semangat, seperti matahari yang mampu memberikan energi kepada semua mahluk hidup di bumi.
Seorang pemimpin ketika berada di tengah-tengah yang dipimpinnya harus bisa mengayomi, menjalin kebersamaan untuk mencapai tujuan. Seorang pemimpin harus bisa merangkul yang dipimpinnya, mau menerima kritik dan saran, serta mampu menciptakan prakarsa untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien, pemimpin harus bisa menciptakan atmosfer organisasi menjadi kondusif, sehingga akan muncul semangat bersama untuk saling memotivasi dalam mencapai tujuan yang diinginkan. Pemimpin harus bisa bekerja sama dengan bawahan. Sehingga semua pekerjaan yang dilakukan akan terasa mudah atau ringan dan akan semakin mempererat hubungan antara bawahan dan pimpinan, namun tidak melanggar etika.
Pemimpin yang baik, berada ditengah-tengah, merasa senasib sepenanggungan, memiliki rasa empati yang tinggi sehingga ia akan selalu tanggap dan peka terhadap keadaan disekitarnya. Pemimpin yang demikian memiliki kesentosaan batin, menghayati setiap kesulitan, merasakan peristiwa-peristiwa yang dialami orang yang dipimpinnya secara bersama-sama. Akhirnya seorang pemimpin akan menjadi lebih sabar, lebar dadanya untuk menerima segala kelemahan dan kekurangan serta kesalahan tanpa rasa kecewa atau menggerutu. Karena kecewa menandakan ketidakmampuannya memikul beban dan tanggung jawab sebagai seorang pemimpin. Jika dikaitkan dengan hasthabrata pemimpin ini bagaikan samudra yang memberikan air kehidupan, kesegaran, luas pintu maafnya, bisa membuat rakyatnya seia sekata.
Tut wuri handayani
Tut Wuri Handayani artinya dari belakang memberikan dorongan dan kekuatan. Seorang pemimpin harus bisa menempatkan diri di belakang untuk mendorong individu-individu dalamorganisasi yang dipimpinnya berada di depan untuk memperoleh kemajuan dan prestasi. Berada dibelakang bukan berarti pemimpin bersembunyi di balik pengikutnya atau pengecut, mengekor dibelakang yang dipimpinnya, akan tetapi harus diartikan sebagai doronganyang memberikan kebebasan kepada orang yang didepannya untuk berekspresi, berprakarsa, berinisiatif dan memiliki kepercayaan diri, tidak tergantung pada orang lain, bekerja tidak hanya berdasarkan pada perintah atasan saja. Pemimpin demikian bertujuan untuk mendidik dan mengembangkan yang dipimpinnya sehingga tercipta proses regenerasi.
Sesuai dengan kata pepatah yang menyebutkan pemimpin yang baik adalah yang mampu menyiapkan pemimpin selanjutnya yang lebih baik dari dirinya, memberi bawahan ilmu-ilmu dan bekal-bekal yang akan menambah wawasan dan kepintaran mereka, memberi kesempatan orang lain untuk maju. Biasanya pemimpin ini memiliki para pengikut yang cerdas, gigih, memiliki semangat, sehingga pemimpin tinggal memberikan petunjuk, mengikuti dan mengoreksi apabila terjadi kesalahan. Jika dikaitkan dengan hasthabrata pemimpin ini seperti bayu atau angin,memiliki sifat ambeg, dinamis, terbuka dan tidak ragu-ragu atau memberikan kepercayaan kepada para pengikutnya.
Dengan demikian meskipun pemimpin berdiri di belakang, namun fungsinya adalah memberikan daya kekuatan dan dukungan moril untuk memperkuat setiap langkah dan tindakan para pengikutnya. Makna yang terkandung dalam filosofi kepemimpinan menurut Ki Hajar Dewantara di atas memberikan gambaran bahwa
seorang pemimpin harus memiliki sifat-sifat kebaikan, dan keunggulan atau kelebihan agar dapat memberikan ketaatan para bawahannya. Kelebihan atau keunggulan tersebut menurut Suradinata (1997) minimal meliputi empat hal, yaitu :
- Kelebihan dalam hal moral dan akhlak
- Kelebihan dalam jiwa dan semangat
- Kelebihan dalam ketajaman intelek dan persepsi
- Kelebihan dalam ketekunan dan keuletan jasmaniah.
Referensi:
Marliani, L., & Djadjuli, R. D. (n.d.). Kebijakan: Jurnal Ilmu Administrasi MENAKAR TRILOGI KEPEMIMPINAN KI HAJAR DEWANTARA DI ERA GLOBALISASI.
Pemikiran, P., Hajar, K., Sri, D., Widodo, A., & Kusmanto, B. (n.d.). POLA KEPEMIMPINAN KI HADJAR DEWANTARA.